bendera

Selasa, 03 November 2026    05:44 WIB
MEDIA INDONESIA NEWS

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

OPINI
 


Paradoks Hukuman Mati Koruptor: Antara Pembalasan dan Restorasi Negara


Tim Red,    08 November 2025,    18:33 WIB

Paradoks Hukuman Mati Koruptor: Antara Pembalasan dan Restorasi Negara
Komjen Pol (P) Drs. Didi Widayadi, MBA

Oleh Komjen Pol (Purn.) Drs. Didi Widayadi, MBA


Antara Amarah Publik dan Kebijakan Negara

Setiap kali isu korupsi mencuat, suara rakyat biasanya satu: “Hukum mati koruptor!” sebuah seruan moral yang lahir dari rasa keadilan yang terluka. Namun dalam politik hukum, pidana mati bukan sekadar pembalasan; ia harus tunduk pada asas proporsionalitas, kepastian hukum, dan kemanusiaan. Di sisi lain, Presiden Prabowo menyuarakan gagasan berbeda: bukan kematian pelaku, melainkan pengembalian uang negara agar tidak menzalimi keluarganya.

Di sinilah paradoks moral dan kebijakan hukum muncul — antara retribution (pembalasan) dan restoration (pemulihan). Dua kutub yang tampak bertentangan, tapi bisa disintesiskan bila diletakkan dalam bingkai hukum yang utuh.


Logika Restoratif: Pulihkan, tapi Jangan Hapus Dosa

UU Tipikor Pasal 4 tegas menyebut:

“Pengembalian kerugian keuangan negara tidak menghapus pidana terhadap pelaku.” Artinya, pengembalian aset bisa menjadi faktor peringanan, tetapi bukan pembebasan. Paradigma ini selaras dengan prinsip hukum modern di banyak negara: “Recover and punish” pulihkan uang negara dan tetap hukum pelakunya.

Negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris mengenal mekanisme deferred prosecution — kesepakatan antara jaksa dan terdakwa untuk mengembalikan kerugian, membayar denda besar, dan menjalani pengawasan kepatuhan, tanpa menghapus pidana.

Brasil melalui kasus “Lava Jato” juga berhasil memulihkan miliaran dolar dengan kombinasi leniency agreement dan hukuman yang tetap ditegakkan.

Batas Diskresi Presiden dan Bahaya Lintas Kewenangan

Presiden memiliki kewenangan diskresi dalam arah kebijakan nasional, tetapi bukan dalam proses pro-justitia (penyidikan, penuntutan, eksekusi). Kewenangan hukum pidana berada pada KPK, Kejaksaan, dan Polri. Bila pembentukan satgas lintas lembaga — apalagi melibatkan unsur non-yudisial seperti Kementerian Pertahanan atau TNI — digunakan untuk menindak warga sipil, maka berpotensi melanggar konstitusi dan asas due process of law.

Korupsi adalah kejahatan sipil, bukan militer. Karenanya, penanganannya harus tunduk pada prosedur hukum yang sah dan dapat diuji di pengadilan, bukan berdasarkan perintah politik atau keinginan institusi tertentu.

Status Aset yang Dikembalikan

Aset hasil korupsi yang “dikembalikan” sebelum putusan pengadilan hanyalah barang bukti titipan. Ia belum sah menjadi milik negara sampai ada putusan pengadilan atau penetapan hakim.

Jika pengembalian dilakukan di luar jalur hukum, maka akan menimbulkan masalah baru — potensi sengketa hukum, gugatan balik, atau bahkan kriminalisasi terhadap petugas yang menerimanya tanpa dasar sah.

Negara boleh menerima aset, tetapi harus melalui prosedur hukum. Hanya dengan cara itu, legitimasi pemulihan dapat diakui di dalam negeri dan di mata dunia.

Bahaya Paradoks: “Bayar, lalu Bebas”

Jika logika “kembalikan uang, selesai” diterapkan tanpa mekanisme hukum yang jelas, akibatnya fatal:

Solusi Sintesis: Restorative-Plus

Untuk keluar dari paradoks ini, diperlukan formula Restorative-Plus:

Model ini bisa dituangkan dalam Peraturan Presiden tentang National Asset Recovery Framework, yang menegaskan kerja sama Polri–Kejaksaan–KPK–PPATK–DJKN, tanpa melibatkan institusi yang tidak memiliki kewenangan pro-justitia. Pengembalian aset bisa menjadi dasar pengurangan hukuman hanya bila disertai pengakuan, kerja sama, dan pemulihan total.

Keadilan yang Memulihkan, Bukan Membeli

Paradoks ini mengajarkan satu hal: keadilan tidak boleh dibeli dengan uang negara yang dikembalikan, tapi harus ditegakkan agar publik percaya.

Negara berhak memulihkan kerugian, tetapi rakyat berhak atas kebenaran dan efek jera.

Hukum yang ideal bukan yang menakutkan, melainkan yang menegakkan keseimbangan antara akal sehat dan nurani bangsa.

“Keadilan yang memulihkan tidak boleh menjadi pembenaran bagi impunitas.

*Uang bisa kembali, tapi nilai kejujuran harus tetap hidup.”*

 

**Penulis Adalah Mantan Kadiv Telematika Polri– Intelijen Strategis dan Founder DW-GPT Institute


banner
NASIONAL
img
Senin, 02 November 2026
Sentul - Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto meresmikan Markas Komando (Mako) Komando Operasi Khusus (Koopssus) TNI di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/11/2026). Peresmian ini menjadi bagian dari upaya...
img
Senin, 02 November 2026
Jakarta - Pa Sahli Tk. III Bidang Manajemen Penanggulangan Bencana Panglima TNI, Laksda TNI Donny Suharto, S.H., M.Tr.Opsla, memberikan pembekalan secara daring kepada 1.311 personel penyuluh dari Pasis Sesko TNI,...
img
Senin, 02 November 2026
Jakarta - Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI Letjen TNI Bambang Trisnohadi memimpin upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Wakil Kepala Staf Teritorial (Wakaster) TNI dari Mayjen TNI Suhardi kepada Mayjen TNI...
img
Senin, 02 November 2026
Afrika - Tim Patroli Temporary Operating Base (TOB) Tchabi Satgas Indonesia Rapid Deployable Battalion (Indo RDB) XXXIX-H MONUSCO yang dipimpin Komandan Kompi (Danki) Mayor Inf Wira Wijaya, melaksanakan patroli sekaligus...
img
Senin, 02 November 2026
Kalsel - Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengerahkan tiga pesawat TNI Angkatan Udara (TNI AU) untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menyemai sebanyak 9,3 ton bahan modifikasi cuaca berupa garam...
img
Senin, 02 November 2026
Palembang - TNI bersama BMKG dan tim gabungan terus mengoptimalkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta penanggulangan kabut asap di wilayah Palembang, Sumatera Selatan, melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)...

MEDIA INDONESIA NEWS