bendera

Kamis, 03 September 2026    06:03 WIB
MEDIA INDONESIA NEWS

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

NASIONAL
 


Forum IWPG: Pemimpin Perempuan Asia-Pasifik Serukan Penguatan Peran Perempuan dalam Mewujudkan Perdamaian Berkelanjutan


Tim Red,    28 Juli 2026,    23:17 WIB

Forum IWPG: Pemimpin Perempuan Asia-Pasifik Serukan Penguatan Peran Perempuan dalam Mewujudkan Perdamaian Berkelanjutan
Istimewa

Seoul-Mediaindonesianews.com: International Women's Peace Group (IWPG) menggelar Global Women's Peace Forum secara daring selama dua hari mulai 20 Juli 2026. Forum internasional tersebut mempertemukan 1.067 perempuan dari kawasan Asia-Pasifik, Afrika dan Eropa, Amerika, serta Asia Selatan dan Timur Tengah untuk membahas tantangan keamanan global sekaligus memperkuat peran perempuan dalam pembangunan perdamaian.


Forum yang dipimpin Ketua IWPG Na-young Jeon itu menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju International Women's Peace Conference 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Republik Korea pada September mendatang. Hasil pembahasan dari setiap kawasan akan dirangkum dalam dokumen Global Women's Peace Recommendations 2026 untuk disampaikan pada konferensi tersebut.

Pada sesi Asia-Pasifik, para peserta membahas berbagai tantangan keamanan yang dinilai semakin kompleks, mulai dari konflik, ketimpangan sosial, hingga dampak perubahan global terhadap masyarakat. Diskusi juga menyoroti hambatan struktural yang masih membatasi keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan.

Direktur International Access Networks sekaligus Chief Executive Officer UN Asia Pacific Women's Watch (APWW), Carole Shaw, mengatakan pendekatan terhadap perdamaian perlu lebih berorientasi pada perlindungan hak asasi manusia dibandingkan semata-mata melalui pendekatan keamanan tradisional.


Menurutnya, upaya membangun perdamaian harus dilakukan sejak dini melalui kebijakan yang mencegah terjadinya kekerasan dan konflik.

Sementara itu, Direktur Federasi Nasional Klub Perempuan Filipina, Melanie Lambino, menilai keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan menjadi faktor penting dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.

Forum tersebut juga menghadirkan berbagai pengalaman dari sejumlah negara mengenai pembangunan perdamaian berbasis komunitas.

Kanakagiri Yashaswini dari India menyoroti pentingnya kesehatan mental dan pengelolaan emosi sebagai bagian dari upaya membangun perdamaian. Menurutnya, kesejahteraan mental merupakan fondasi bagi terciptanya masyarakat yang damai.

Pendiri dan CEO Uniting Circle Multicultural Community Centre, Mujgan Tahery, membagikan pengalamannya sebagai pengungsi Afghanistan. Ia menilai perempuan pengungsi dan migran perlu dipandang sebagai bagian dari solusi dalam proses pembangunan perdamaian.

Pandangan serupa disampaikan Kathleen Thein dari Myanmar yang menekankan pentingnya menghubungkan suara perempuan di tingkat komunitas dengan agenda perdamaian internasional.

Sementara itu, dosen dan peneliti La Trobe University, Dr. Huong Nguyen, menyoroti tantangan yang dihadapi perempuan migran, seperti pengakuan kualifikasi pendidikan dan ketimpangan tanggung jawab pengasuhan, yang menurutnya perlu mendapat perhatian dalam membangun masyarakat yang inklusif.

Dari Indonesia, Suraiya Kamaruzzaman memaparkan pengalaman Aceh dalam menghadapi konflik bersenjata dan bencana tsunami 2004. Ia mengusulkan peningkatan kewenangan perempuan dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam pengelolaan anggaran kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan masyarakat.

Selain sesi pleno, forum juga menggelar diskusi kelompok yang menghasilkan sejumlah rekomendasi. Di antaranya peningkatan pelatihan kepemimpinan perempuan untuk mencegah kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga, penguatan pendidikan perdamaian bagi generasi muda, pembentukan platform dukungan bagi korban kekerasan berbasis gender, serta penguatan literasi digital untuk menghadapi penyebaran disinformasi.

Dalam sambutan pembukaannya, Presiden IWPG Na-young Jeon menegaskan pentingnya mendengar pengalaman perempuan yang menghadapi persoalan di tingkat lokal sebagai dasar penyusunan kebijakan perdamaian global.

Menurut Jeon, perempuan yang hidup di komunitas memahami tantangan yang mereka hadapi sehari-hari sehingga perspektif mereka perlu menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan internasional.

IWPG menyatakan akan membawa berbagai rekomendasi yang dihasilkan dalam forum tersebut ke International Women's Peace Conference 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat partisipasi perempuan dalam agenda perdamaian dunia.

International Women's Peace Group (IWPG) merupakan organisasi nonpemerintah internasional yang berfokus pada penguatan kepemimpinan perempuan, pendidikan perdamaian, advokasi, dan kerja sama internasional untuk mendorong terciptanya budaya damai di berbagai negara.***


banner
NASIONAL
img
Kamis, 03 September 2026
Nusa Tenggara Timur, mediaindonesianews.com - Memasuki hari kesembilan belas penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), TNI melanjutkan dukungan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak, Rabu (2/9/2026). Upaya tersebut
img
Rabu, 02 September 2026
OKU Timur, mediaindonesianews.com - Wadan Kodiklat TNI Marsda TNI Bambang Gunarto mewakili Dankodiklat TNI meninjau kegiatan _Engineer Civic Action Program_ (ENCAP) Latgabma Super Garuda Shield (SGS) 2026 di
img
Rabu, 02 September 2026
Lampung - Prajurit Latgabma Super Garuda Shield (SGS) 2026 Marfor melaksanakan latihan menembak sniper dan jungle survival di Teluk Pandan, Pesawaran, Lampung, Rabu (2/9/2026). Latihan ini diikuti prajurit dari Indonesia,
img
Rabu, 02 September 2026
Bandung, mediaindonesianews.com - Personel TNI dan militer negara mitra melaksanakan _Humanitarian Assistance and Disaster Relief_ (HADR) _Tabletop Exercise_(TTX) dalam rangka Latihan Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026 di
img
Rabu, 02 September 2026
Sumsel - Evakuasi Medis Udara (Air Medevac) menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Latihan Gabungan Bersama Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026 yang berlangsung di Puslatpur TNI AD, Martapura, Sumatera
img
Rabu, 02 September 2026
Jakarta-Mediaindonesianews.com: Pembahasan revisi Undang-Undang Pemilu kembali menjadi sorotan setelah hingga Agustus 2026 belum menunjukkan perkembangan signifikan. Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap kualitas penyelenggaraan pemilu mendatang sekaligus memperpanjang persoalan

MEDIA INDONESIA NEWS