Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Seoul-Mediaindonesianews.com: International Women's Peace Group (IWPG) menggelar Global Women's Peace Forum secara daring selama dua hari mulai 20 Juli 2026. Forum internasional tersebut mempertemukan 1.067 perempuan dari kawasan Asia-Pasifik, Afrika dan Eropa, Amerika, serta Asia Selatan dan Timur Tengah untuk membahas tantangan keamanan global sekaligus memperkuat peran perempuan dalam pembangunan perdamaian.
Forum yang dipimpin Ketua IWPG Na-young Jeon itu menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju International Women's Peace Conference 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Republik Korea pada September mendatang. Hasil pembahasan dari setiap kawasan akan dirangkum dalam dokumen Global Women's Peace Recommendations 2026 untuk disampaikan pada konferensi tersebut.
Pada sesi Asia-Pasifik, para peserta membahas berbagai tantangan keamanan yang dinilai semakin kompleks, mulai dari konflik, ketimpangan sosial, hingga dampak perubahan global terhadap masyarakat. Diskusi juga menyoroti hambatan struktural yang masih membatasi keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan.
Direktur International Access Networks sekaligus Chief Executive Officer UN Asia Pacific Women's Watch (APWW), Carole Shaw, mengatakan pendekatan terhadap perdamaian perlu lebih berorientasi pada perlindungan hak asasi manusia dibandingkan semata-mata melalui pendekatan keamanan tradisional.
Menurutnya, upaya membangun perdamaian harus dilakukan sejak dini melalui kebijakan yang mencegah terjadinya kekerasan dan konflik.
Sementara itu, Direktur Federasi Nasional Klub Perempuan Filipina, Melanie Lambino, menilai keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan menjadi faktor penting dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.
Forum tersebut juga menghadirkan berbagai pengalaman dari sejumlah negara mengenai pembangunan perdamaian berbasis komunitas.
Kanakagiri Yashaswini dari India menyoroti pentingnya kesehatan mental dan pengelolaan emosi sebagai bagian dari upaya membangun perdamaian. Menurutnya, kesejahteraan mental merupakan fondasi bagi terciptanya masyarakat yang damai.
Pendiri dan CEO Uniting Circle Multicultural Community Centre, Mujgan Tahery, membagikan pengalamannya sebagai pengungsi Afghanistan. Ia menilai perempuan pengungsi dan migran perlu dipandang sebagai bagian dari solusi dalam proses pembangunan perdamaian.
Pandangan serupa disampaikan Kathleen Thein dari Myanmar yang menekankan pentingnya menghubungkan suara perempuan di tingkat komunitas dengan agenda perdamaian internasional.
Sementara itu, dosen dan peneliti La Trobe University, Dr. Huong Nguyen, menyoroti tantangan yang dihadapi perempuan migran, seperti pengakuan kualifikasi pendidikan dan ketimpangan tanggung jawab pengasuhan, yang menurutnya perlu mendapat perhatian dalam membangun masyarakat yang inklusif.
Dari Indonesia, Suraiya Kamaruzzaman memaparkan pengalaman Aceh dalam menghadapi konflik bersenjata dan bencana tsunami 2004. Ia mengusulkan peningkatan kewenangan perempuan dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam pengelolaan anggaran kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan masyarakat.
Selain sesi pleno, forum juga menggelar diskusi kelompok yang menghasilkan sejumlah rekomendasi. Di antaranya peningkatan pelatihan kepemimpinan perempuan untuk mencegah kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga, penguatan pendidikan perdamaian bagi generasi muda, pembentukan platform dukungan bagi korban kekerasan berbasis gender, serta penguatan literasi digital untuk menghadapi penyebaran disinformasi.
Dalam sambutan pembukaannya, Presiden IWPG Na-young Jeon menegaskan pentingnya mendengar pengalaman perempuan yang menghadapi persoalan di tingkat lokal sebagai dasar penyusunan kebijakan perdamaian global.
Menurut Jeon, perempuan yang hidup di komunitas memahami tantangan yang mereka hadapi sehari-hari sehingga perspektif mereka perlu menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan internasional.
IWPG menyatakan akan membawa berbagai rekomendasi yang dihasilkan dalam forum tersebut ke International Women's Peace Conference 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat partisipasi perempuan dalam agenda perdamaian dunia.
International Women's Peace Group (IWPG) merupakan organisasi nonpemerintah internasional yang berfokus pada penguatan kepemimpinan perempuan, pendidikan perdamaian, advokasi, dan kerja sama internasional untuk mendorong terciptanya budaya damai di berbagai negara.***