Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Bangli-Mediaindonesianews.com: Rangkaian karya besar di Pura Penataran Ageng Taman Bebalang, Kelurahan Bebalang, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, mulai dilaksanakan. Upacara diawali dengan Mepada Alit yang digelar krama Pengempon pada Sabtu (6/9/2026).
Mepada Alit menjadi salah satu tahapan penting sebelum pelaksanaan puncak karya yang dijadwalkan pada 11 September 2026. Karya besar tersebut mencakup sejumlah rangkaian upacara, di antaranya Ngenteg Linggih, Nubung Pedagingan, Tawur Balik Sumpah, Mekebat Daun, Ngebekin Mangun Ayu, Mepedudusan Agung hingga Menawa Ratna.
Upacara Mepada Alit dipuput langsung Ida Ratu Shri Begawan Putra Natha Bangli Anom Pemayun selaku Yajamana Karya.
Dalam pelaksanaannya, sejumlah sarana upacara yang berasal dari wewalungan atau hewan dikaitkan dengan proses penyucian secara niskala. Hewan yang digunakan antara lain ayam berbagai warna, bebek berbagai warna, angsa putih, kambing dan babi butuan.
Ida Yajamana Karya menjelaskan, istilah Mepada berasal dari kata pada yang bermakna tingkat atau proses menyucikan roh agar kualitasnya meningkat. Sementara alit berarti kecil.
“Tujuan dari acara Mepada Alit ini adalah menyucikan sarana upacara yang berasal dari hewan (wewalungan), disucikan rohnya supaya dalam kehidupannya nanti bisa hidup lebih sempurna lagi menjadi makhluk yang lebih mulia,” ujarnya.
Menurutnya, prosesi tersebut merupakan bagian dari konsep pengorbanan suci untuk menjaga keseimbangan alam semesta.
“Dengan roh dan hidupnya melakukan pengorbanan yang suci demi keseimbangan alam semesta,” lanjutnya.
Pelaksanaan Mepada Alit juga diwarnai semangat gotong royong masyarakat. Sejak pagi, warga dari trah Dalem Taruk Pula Sari Bebalang hadir dan terlibat dalam berbagai persiapan sarana upacara.
Kegiatan kemudian dilanjutkan pada siang hari oleh warga Banjar Bebalang Tempek Pulung. Masyarakat bersama-sama ngayah menyusun berbagai sarana bakti pecaruan yang akan digunakan dalam rangkaian Tawur Pecaruan pada hari berikutnya.
Kegiatan tersebut dipimpin Prajuru Adat sekaligus Jro Bendesa Adat Bebalang, I Nyoman Karsana.
Karsana berharap seluruh rangkaian karya besar yang dilaksanakan di Pura Penataran Ageng Taman Bebalang dapat membawa keharmonisan bagi masyarakat dan lingkungan.
“Semoga karya besar yang kita laksanakan ini membawa dampak dan vibrasi positif kepada kita semua, begitu juga alam semesta supaya terjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan seisi alam mendapatkan berkah Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” katanya.
Pura Penataran Ageng Taman Bebalang memiliki sejarah panjang. Berdasarkan Raja Purana, pura tersebut diperkirakan telah ada sejak abad ke-18 dan dibawa oleh Sang Gede Abah dari Nyalian, Klungkung, didampingi semeton Pande Tusan.
Pura tersebut kemudian menjadi salah satu pusat persembahyangan Pasemetonan Kesatria yang terdiri dari sejumlah trah, di antaranya Ida I Dewa, I Dewa, I Dewa Sang hingga I Dewa Ngakan.
Rangkaian Mepada Alit berlangsung lancar dan khidmat. Pada akhir kegiatan, Prajuru Ageng Dewa Sang Mangku Dame Arta selaku perwakilan Pengempon menyampaikan apresiasi kepada seluruh krama dan warga yang telah bergotong royong menyukseskan tahapan awal karya.
Pihak Pengempon juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama proses penyambutan maupun pelaksanaan upacara terdapat kekurangan atau hal yang kurang berkenan.
Seluruh rangkaian karya selanjutnya akan terus dilaksanakan hingga mencapai puncak karya pada 11 September 2026. (JB)