bendera

Kamis, 03 September 2026    07:45 WIB
MEDIA INDONESIA NEWS

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

BREAKING NEWS
 


Ketua Dewan Pakar Asprindo Soroti Ketimpangan Ekonomi: Sistem GDP Oriented Dinilai Perlu Diubah


Ips,    21 November 2025,    14:55 WIB

Ketua Dewan Pakar Asprindo Soroti Ketimpangan Ekonomi: Sistem GDP Oriented Dinilai Perlu Diubah
Istimewa

Jakarta-Mediaindonesianews.com: Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Prof Didin S. Damanhuri, menegaskan bahwa Indonesia harus mengubah tata kelola perekonomiannya jika ingin mempersempit ketimpangan ekonomi yang terus melebar. Menurutnya, orientasi pembangunan yang terlalu berfokus pada pertumbuhan berbasis Produk Domestik Bruto (GDP Oriented) justru memperparah jurang kesejahteraan masyarakat.


Ketua Dewan Pakar Asprindo Soroti Ketimpangan Ekonomi: Sistem GDP Oriented Dinilai Perlu Diubah

Pernyataan tersebut disampaikan Prof Didin dalam Seminar Nasional Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026: Menata Ulang Arah Ekonomi Berkeadilan yang digelar Indef di Jakarta. Ia memaparkan tiga model orientasi pembangunan ekonomi yang lazim diterapkan negara-negara berkembang.

Model pertama adalah growth through equity, di mana pertumbuhan PDB hanya menjadi indikator tambahan dan pembangunan mengutamakan pemerataan. Contohnya Malaysia pada era Mahathir, Jepang, Taiwan, hingga Korea Selatan yang memulai pembangunan dengan reformasi tanah dan penguatan UMKM.

“Jepang dan Taiwan membuktikan bahwa pemerataan bisa menjadi fondasi pertumbuhan tinggi. Hampir 90 persen sektor dikerjakan UMKM,” ujarnya, Jumat (21/11).


Model kedua adalah growth with equity, yakni pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan pemerataan. Indonesia pernah menerapkan model ini pada era Presiden Soeharto, yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7,5 persen. Thailand juga menerapkan strategi serupa melalui penguatan agroindustri rakyat.

Model ketiga adalah GDP Oriented, yaitu mengejar pertumbuhan tinggi dengan segala cara. Indonesia dinilai masuk kategori ini sejak era reformasi melalui privatisasi, pembiayaan pembangunan berbasis utang, serta masifnya pembangunan infrastruktur. Namun berbeda dengan China yang juga mengejar pertumbuhan tinggi, Indonesia dinilai minim peran negara dalam menjamin pemerataan dan penegakan antikorupsi.

Prof Didin menegaskan bahwa ketimpangan di Indonesia tampak jelas dalam berbagai indikator. Berdasarkan data Bank Dunia, 40 persen penduduk dengan pendapatan terendah hanya menikmati sekitar 17 persen dari total pertumbuhan ekonomi. Sedangkan Gini Ratio pengeluaran Indonesia berada di angka 0,38–0,41, dan Gini Ratio pendapatan mendekati 0,5—menandakan ketimpangan yang tinggi.

Ia juga menyoroti Material Power Index (MPI), indikator kesenjangan kekayaan di mana kekayaan 40 orang terkaya dibandingkan dengan rata-rata kekayaan masyarakat.

“Tahun 2011 Indonesia berada di posisi kedua terburuk dunia. Tahun 2023 Indonesia justru menjadi peringkat pertama dengan angka 1.236.795, mengalahkan China,” ungkapnya.

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, Prof Didin mendorong pemerintah menata ulang kebijakan ekonomi agar lebih inklusif dan berkeadilan. Ia menilai lembaga strategis seperti Bulog, KPPU, dan KPK perlu diperkuat kembali. Bulog perlu difungsikan maksimal untuk menjaga stabilitas pangan, KPK harus kembali independen, dan KPPU disetarakan dengan KPK untuk menekan korupsi sektor swasta dan praktik kartel.

Selain itu, ia juga mengusulkan reformasi pengelolaan fiskal dan moneter, yang dinilai selama ini terlalu terpusat di Kementerian Keuangan.

“Bappenas perlu diberi otoritas perencanaan sekaligus fiskal bersama Kemenkeu, sementara Bank Indonesia fokus pada otoritas moneter. Pemerintah juga sebaiknya membentuk Badan Penerimaan Pendapatan Negara,” pungkasnya.

Prof Didin menilai tanpa perubahan mendasar, ketimpangan ekonomi akan terus melebar dan menghambat kesejahteraan nasional. (ips)


banner
NASIONAL
img
Kamis, 03 September 2026
Nusa Tenggara Timur, mediaindonesianews.com - Memasuki hari kesembilan belas penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), TNI melanjutkan dukungan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak, Rabu (2/9/2026). Upaya tersebut
img
Rabu, 02 September 2026
OKU Timur, mediaindonesianews.com - Wadan Kodiklat TNI Marsda TNI Bambang Gunarto mewakili Dankodiklat TNI meninjau kegiatan _Engineer Civic Action Program_ (ENCAP) Latgabma Super Garuda Shield (SGS) 2026 di
img
Rabu, 02 September 2026
Lampung - Prajurit Latgabma Super Garuda Shield (SGS) 2026 Marfor melaksanakan latihan menembak sniper dan jungle survival di Teluk Pandan, Pesawaran, Lampung, Rabu (2/9/2026). Latihan ini diikuti prajurit dari Indonesia,
img
Rabu, 02 September 2026
Bandung, mediaindonesianews.com - Personel TNI dan militer negara mitra melaksanakan _Humanitarian Assistance and Disaster Relief_ (HADR) _Tabletop Exercise_(TTX) dalam rangka Latihan Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026 di
img
Rabu, 02 September 2026
Sumsel - Evakuasi Medis Udara (Air Medevac) menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Latihan Gabungan Bersama Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026 yang berlangsung di Puslatpur TNI AD, Martapura, Sumatera
img
Rabu, 02 September 2026
Jakarta-Mediaindonesianews.com: Pembahasan revisi Undang-Undang Pemilu kembali menjadi sorotan setelah hingga Agustus 2026 belum menunjukkan perkembangan signifikan. Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap kualitas penyelenggaraan pemilu mendatang sekaligus memperpanjang persoalan

MEDIA INDONESIA NEWS