bendera

Kamis, 03 September 2026    08:23 WIB
MEDIA INDONESIA NEWS

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

BREAKING NEWS
 


Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka, Prof Didin: Ketimpangan Ekonomi Terburuk, Indonesia Tertinggal Jauh


Tim Red,    03 Agustus 2025,    14:55 WIB

Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka, Prof Didin: Ketimpangan Ekonomi Terburuk, Indonesia Tertinggal Jauh
Istimewa

Jakarta-Mediaindonesianews.com: Menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Pribumi Indonesia (Asprindo), Prof Didin Damanhuri, mengungkapkan kondisi ekonomi nasional yang dinilainya berada dalam situasi memprihatinkan. Ia menegaskan bahwa Indonesia mengalami ketertinggalan signifikan dibandingkan negara-negara yang dulu memiliki level pembangunan serupa.


Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka, Prof Didin: Ketimpangan Ekonomi Terburuk, Indonesia Tertinggal Jauh

"Negara-negara seperti Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand yang di tahun 1970-an sejajar dengan Indonesia, kini jauh melampaui kita. Korea Selatan memiliki PDB per kapita Rp30 ribu, Malaysia Rp14 ribu, dan Thailand Rp8 ribu. Sementara Indonesia masih Rp5 ribu," ujar Prof Didin dalam diskusi ekonomi, Minggu (3/8/2025).

Ia menekankan bahwa meskipun Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita bukan satu-satunya tolok ukur kesejahteraan, namun tetap menjadi indikator awal yang penting dalam menilai kemajuan suatu bangsa.

Lebih lanjut, Prof Didin menyampaikan bahwa Indonesia juga mengalami ketimpangan ekonomi yang sangat mencolok. Mengutip indeks oligarki Jeffrey Winters, ia menyebut bahwa sejak 2014 Indonesia menempati peringkat kedua terburuk di dunia, dan saat ini kemungkinan menjadi yang terburuk.


Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka, Prof Didin: Ketimpangan Ekonomi Terburuk, Indonesia Tertinggal Jauh

"Berdasarkan buku Oligarchy karya Winters, kekayaan 40 orang terkaya Indonesia tahun 2024 mencapai 1.056.000 kali lipat dari rata-rata pendapatan penduduk. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang hanya sekitar 20.000 kali lipat," jelasnya.

Ketimpangan tersebut, menurutnya, memperlihatkan konsentrasi kekayaan yang menciptakan konsentrasi kekuasaan. Hal ini turut memperparah struktur ekonomi yang dinilai tidak inklusif.

Ia juga menyoroti siapa yang sebenarnya menikmati pertumbuhan ekonomi Indonesia yang secara rata-rata mencapai 5 persen sejak era reformasi.

"Pertumbuhan ini hanya dinikmati segelintir orang, yang disebut sebagai oligarki. Data Credit Suisse tahun 2003 mencatat kekayaan empat orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 100 juta rakyat Indonesia. Sekarang mungkin lebih buruk," ujarnya.

Prof Didin juga menyinggung persoalan penurunan daya beli masyarakat bawah, yang terlihat dari nilai tukar petani dan nelayan yang berada di bawah angka 100. Gini ratio Indonesia yang berada di angka 0,4, menurutnya mencerminkan ketimpangan serius.

"Data World Bank menunjukkan bahwa hampir 40 persen penduduk Indonesia hidup dengan pengeluaran kurang dari 2 dolar per hari. Jauh dari klaim resmi yang menyebut hanya 9 persen. Jika dihitung berdasarkan paritas daya beli, tiga per empat penduduk Indonesia sebenarnya berada di bawah garis kemiskinan," paparnya.

Ia juga membandingkan situasi ini dengan masa pemerintahan Presiden Soeharto, yang menurutnya lebih menjamin stabilitas harga kebutuhan pokok dan memiliki strategi pangan yang terarah.

"Sejak swasembada pangan tahun 1984 hingga akhir masa jabatannya, kebutuhan pokok rakyat dijamin. Pertumbuhan ekonomi pernah menyentuh angka 7,5 hingga 8 persen. Pascareformasi, hanya satu-dua tahun ada kebijakan serupa, seperti di era Menteri Pertanian Anton Apriantono. Setelah itu hilang,” jelasnya.

Refleksi ini menjadi pengingat keras bahwa dalam usia 80 tahun kemerdekaannya, Indonesia masih harus berjuang keras untuk mewujudkan keadilan ekonomi yang sesungguhnya.***


banner
NASIONAL
img
Kamis, 03 September 2026
Baturaja - Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield (SGS) Tahun 2026 tidak hanya berfokus pada latihan taktis dan tempur multinasional, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata kepedulian sosial dan
img
Kamis, 03 September 2026
Nusa Tenggara Timur, mediaindonesianews.com - Memasuki hari kesembilan belas penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), TNI melanjutkan dukungan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak, Rabu (2/9/2026). Upaya tersebut
img
Rabu, 02 September 2026
OKU Timur, mediaindonesianews.com - Wadan Kodiklat TNI Marsda TNI Bambang Gunarto mewakili Dankodiklat TNI meninjau kegiatan _Engineer Civic Action Program_ (ENCAP) Latgabma Super Garuda Shield (SGS) 2026 di
img
Rabu, 02 September 2026
Lampung - Prajurit Latgabma Super Garuda Shield (SGS) 2026 Marfor melaksanakan latihan menembak sniper dan jungle survival di Teluk Pandan, Pesawaran, Lampung, Rabu (2/9/2026). Latihan ini diikuti prajurit dari Indonesia,
img
Rabu, 02 September 2026
Bandung, mediaindonesianews.com - Personel TNI dan militer negara mitra melaksanakan _Humanitarian Assistance and Disaster Relief_ (HADR) _Tabletop Exercise_(TTX) dalam rangka Latihan Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026 di
img
Rabu, 02 September 2026
Sumsel - Evakuasi Medis Udara (Air Medevac) menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Latihan Gabungan Bersama Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026 yang berlangsung di Puslatpur TNI AD, Martapura, Sumatera

MEDIA INDONESIA NEWS